Budaya Sebagai Simbol dan Wadah Peradaban Dunia Islam

Meskipun Rasulullah Muhammad SAW memegang kepemimpinan tertinggi dan absolut, namun beliau meletakkan dasar-dasar masyarakat #partisipatif_kontraktual yang pada abad modern menjadi preferensi dan arus utama pemikiran politik.

Al Quran menjadi sebuah dasar dalam membangun peradaban pada masa itu, selain sebagai Sumber Hukum, Pedoman Moral, juga menjadi landasan dalam melebur Heterogenitas yang bersumber dari etnis dan Kesukuan masyarakat mekah-madinah pada masa itu dan terwujudlah sebuah cita-cita mulia yang menjadikan madinah sebagai pusat peradaban Islam.

Selain itu, kehadiran Alquran mampu mengubah mindset mereka. Pranata dan wibawa hukum ditegakkan sehingga muncul masyarakat Madinah, sebuah kota konseptual-idiomatik yang mengacu pada supremasi hukum di atas kekuatan individu dan suku.

Heterogenitas suku dilebur ke dalam sebuah cita cita dan mimpi besar yang kemudian menjelma menjadi sebuah gerakan peradaban yang jangkauannya melampau batas teritori,batas etnis, dan jauh mendahului pikiran zaman. Hanya dalam waktu yang amat singkat,menurut ukuran sejarah, dengan bimbingan Alquran masyarakat Arab berubah secara drastis: dari masyarakat jahiliyah menjadi pusat dan sumber penggerak peradaban dunia.

Perjumpaan Al quran dengan warisan intelektual Yunani telah mendorong lahirnya pemikiran filsafat dan teologi dalam Islam, sehingga muncullah filsuf dan teolog muslim kelas dunia yang turut berjasa bagi kebangkitan Eropa modern. Ketika umat Islam masuk ke India yang kental dengan pengaruh Hindu, muncullah mazhab tasawuf atau mistik Islam.

Semua ini merupakan contoh adanya sikap #kreatif_inovatif dalam mengembangkan peradaban Islam yang dimotivasi oleh Alquran. Begitu pun ketika Islam masuk ke Nusantara, maka dengan sangat bijak para penyebar Islam itu menghargai tradisi luhur yang dijumpainya sambil memperkenalkan ajaran Alquran, sehingga antara agama dan budaya setempat saling menopang, saling mengisi.

Agama tidak bisa berkembang tanpa wadah budaya, dan budaya akan kehilangan arah dan ruh tanpa bimbingan agama. Inklusivitas peradaban Islam secara simbolik ditampilkan oleh bangunan masjid. Inti dari masjid adalah aktivitas salatnya, sedangkan arsitektur dan berbagai peralatan lain yang mendukungnya sangat terbuka untuk berinovasi dan menampung beragam unsur budaya dari luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *